MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MELALUI METODE SOSIO DRAMA PADA MATA PELAJARAN AKIDAH AKHLAK BAGI SISWA KELAS III B DI MI YAA BUNAYYA KOTA JAYAPURA

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MELALUI METODE SOSIO DRAMA PADA MATA PELAJARAN AKIDAH AKHLAK BAGI SISWA KELAS III B DI MI YAA BUNAYYA KOTA JAYAPURA

Oleh : Andika Dian Saputra

Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim

 

Abstrak

 Penelitian dalam tulisan ini adalah penelitian tindakan kelas atau PTK yang memiliki tujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa melalui implementasi metode pembelajaran Sosio drama pada mata pelajaran akidah akhlak. Sampel siswa kelas II B di MI Yaa Bunayya. Peneliti melakukan dengan beberapa tindakan. Dalam pelaksanaan di lapangan, penelitian tindakan kelas atau PTK ini dilakukan secara berulang dengan mengikuti tahapan siklus yang telah ditetapkan sehingga tercapainya tujuan dari pembelajaran dengan menggunakan metode sosio drama. Untuk melihat Indikator dari peningkatan hasil belajar siswa dapat dilihat dari peningkatan hasil belajar yang didapat siswa setelah mengikuti proses kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan metode sosio drama. Hasil penelitian diperoleh bahwa penerapan metode sosio drama telah memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan hasil belajar siswa.

Kata kunci : Metode Sosio Drama, Akidah Akhlak

Pendahuluan

Pendidikan merupakan susunan konsep gramatikal yang sangat berperan dalam menyusun struktur perkembangan dalam kehidupan manusia dan tentunya menjadi salah satu tolak ukur penilaian terhadap suatu Bangsa. Dengan ini tentunya pendidikan harus menjadi aspek yang mendapat perhatian lebih guna pengembangan kualitas pendidikan yang di inginkan, bahwa Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana guna mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran supaya peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, Bangsa dan Negara.

Jika berorientasi pada tujuan nasional pendidikan maka unsur yang akan sangat disoroti adalah Guru, yang mana dalam hal ini guru dituntut untuk dapat mengembangkan kemampuan yang dimiliki peserta didiknya dengan berbagai cara seperti memperhatikan bahan ajar apa yang akan disajikan pada pelajaran yang akan diajarkannya karena dengan begitu maka seorang guru akan memberikan yang terbaik bagi peserta didiknya terlebih kepada pencapain pendidikan yang di inginkan. 

Dewasa ini pendidikan cenderung dipandang sebagai sesuatu yang pragmatis bukan kepada sesuatu yang real. Dampaknya, implementasi pendidikan khususnya di ranah formal seperti lembaga pendidikan atau sekolah berjalan dengan tidak memperhatikan kemampuan dari peserta didiknya. Seperti, kebanyakan tenaga pendidik yang lebih memprioritaskan potensi kognitif atau skill peserta didiknya, dan juga guru tidak begitu mahir mengontrol kondisi atau cuaca kelas agar kondusif sehingga guru hanya akan terfokus kepada satu atau dua siswa saja yang dianggap mumpuni saaat proses belajar mengajar berlangsung. Tentunya dengan proses pengajaran seperti ini maka pemberian atau penyampaian pelajaran akan terlihat tidak merata tersampaikan kepada peserta didiknya. Dan tentu saja dengan implementasi pendidikan dengan model seperti ini juga tidak akan berjalan baik dan tidak akan sesuai dengan tujuan pendidikan yang sebenarnya.

Sejatinya pendidikan itu tidak hanya sebatas guru mentransfer pengetahuan kepada peserta didik atau hanya proses dari tidak tau menjadi tau, melainkan lebih dari itu, yaitu mentransfer nilai dari pengetahuan itu sendiri. Pendidikan juga merupakan gerak dari sebuah kultur yang menuntut kepada siswa agar selalu mengembangkan potensidalam dirinya agar mampu bersaing dan terus berkembang di dalam kehidupannya. Karena itulah, daya kritis siswa dan partisipatifnya harus selalu timbul dalam jiwa peserta didik. Lantas jika proyeksi pembelajaran tidak mendukung untuk mewujudkan hal tersebut, maka tidak akan terwujud pula tujuan pendidikan sebagaimana yang diharapkan. Karenanya lagi sistem pendidikan di bangsa ini mengalami distorsi pemerataan, namun di tuntut keras dengan kualitas yang ahrus berujung kepada kesetaraan. Maka dengan melihat dinamika ini dapat dikatakan bahwa kapita selekta pendidikan bangsa ini begitu banyak yang harus di selesaikan, yang juga begitu menghambat terwujudnya tujuan pendidikan yang diharapkan.

Dalam kaitannya, guru Akidah Akhlak tentunya harus menjadi pelopor utama yang meredam problema pendidikan ini, atas dasar bahwa guru Akidah Akhlak adalah tenaga pengajar yang kompleks, yang mengajarkan dan mengetahui pendidikan dengan penerapan nilai-nilai keagamaan didalamnya. Guru Akidah Akhlak juga harus memperhatikan aturan, fungsi dan tujuan pendidikan yang sebenarnya sehingga nantinya guru Akidah Akhlak tidak lagi terfokus kepada aspek religius keagamaan saja namun juga mampu mempraktikan nilai Akidah Akhlak didalam unsur pendidikan lainnya. Dengan tuntutan seperti ini maka guru mempunyai tugas dan tanggung jawab lebih dibanding yang lainnya.

Perihal rangkaian unsur Akidah Akhlak di tingkat Sekolah Dasar (SD) atau Madrasah Ibtidaiyyah (MI), tentu akan banyak ditemui kesulitan pada penyusunannya. Bahwa panel penghubung yang menunjang untuk berjalannya proses pendidikan di dalam kelas haruslah berjalan dengan bersama-sama. Jadi seluruh elemen penunjang haruslah ikut berperan aktif dalam mewujudkan tujuan pendidikan yang di inginkan. Begitu banyak gambaran kegagalan proses pendidikan yang bermula dan terjadi di dalam kelas, baik itu karena sarana pendidikan yang tidak mendukung sampai mutu guru yang juga tidak begitu menerapkan nilai dari pendidikan yang terkandung. Hal ini yang kemudian menjadi sebuah sandungan bagi para tenaga pengajar atau guru, tak terkecuali guru Akidah Akhlak yang mempunyai peran lebih karena selain menjadi objek nyata bagi siswa dalam mendapatkan ilmu guru Akidah Akhlak juga harus dapat membentuk pribadi murid yang religius. Maka dengan itu guru pendidikan agama islam harus memiliki dan menguasai seluruh unsur pembelajaran yang ada seperti salah satu unsur yang selalu menjadi polemik dalam pemebelajaran, yaitu metode pembelajaran karena hal ini yang akan sangat mempengaruhi penyampaian atau proses pentransferan imu pengetahuan dari guru ke murid terlebih pelajaran Akidah Akhlak yang juga dituntut agar penyampaian nilai religiusnya juga sampai kepada siswa. Dengan demikian guru Akidah Akhlak haruslah memiliki kemampuan penyususnan metode tersebut guna keberlangsungan pembelajaran sebagaiamana mestinya.

Begitu banyak lembaga pendidikan yang mengalami permasalahan tersebut, seperti yang terjadi di kelas III B Madrasah Ibtidaiyyah Yaa Bunayya yang mana dalam pelaksanaan proses belajar mengajarnya juga terdapat problem tentang metode tersebut. Dimana ketika proses pembelajaran guru hanya menyampaikan pelajaran dengan sikap yang cenderung pasif, dan metode yang tidak berubah-ubah sehingga siswa merasa jenuh di dalam kelas ketika proses pembelajaran, terlebih dari segi perkembangan peserta didik bahwa anak di usia kelas I-III sekolah dasar atau SD merupakan suatu masa yang sangat mempengaruhi perkembangan anak, dimasa ini anak-anak begitu hiper aktif dalam kegiatannya dan begitupun pembelajarannya, namun dengan kondisi yang seperti demikian maka sudah dapat dikatakan bahwa metode atau kondisi pembelajaran tersebut sangat tidak mendukung tumbuh kembang peserta didik. Kebanyakan guru akan menggunakan metode ceramah dan jenis-jenis metode pembelajaran yang berpusat kepada guru dan tidak memperhitungkan metode lain dalam proses pembelajarannya dan tanpa mempertimbangkan model materi pembelajarannya saat itu, sehingga siswa tadi tidak semuanya mampu menangkap dan menjadi seperti apa yang diinginkan guru.

Polemik metode pembelajaran tersebut terjadi di MI Yaa Bunayya, akibatnya siswa tidak semuanya yang dapat memperoleh pembelajaran dengan baik sehingga menghasilkan evaluasi siswa yang terbilang rendah di bawah rata-rata, terlihat juga hubungan antara guru dan murid yang tidak begitu komunikatif. Maka dapat disimpulkan bahwa metode dalam proses pembelajaran di kelas III B Madrasah Ibtidaiyyah Yaa Bunayya tidak begitu efektif terlebih lagi dalam hal mengimplementasikan nilai akidah akhlak dari proses pembelajaran. berdasarkar latar belakang tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tindakan kelas atau PTK yang berjudul “Meningkatkan Hasil Belajar Melalui Metode Sosio Drama Pada Mata Pelajaran Akidah Akhlak Bagi Siswa Kelas III B Di Madrasah Ibtidaiyyah Yaa Bunayya Kota Jayapura”.

Rumusan masalah pada penelitian ini yaitu apakah Metode Sosio Drama dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran Akidah Akhlak di Kelas III B MI Yabunayya Kota Jayapura?

Engkoswara mengatakan metode sosio drama adalah: “Suatu drama tanpa naskah yang akan di mainkan oleh sekolompok orang. Biasanya permasalahan cukup di ceritakan dengan singkat dalam tempo empat atau lima menit, kemudian anak akan menerangkannya. Persoalan pokok yang akan didramatisasikan diambil dari kejadian-kejadian sosial, oleh karena itu dinamakan sosiodrama”. 

Metode sosio drama merupakan metode pembelajaran yang menggunakan cara bermain peran guna untuk memecahkan problem yang berhubungan dengan fenomena-fenomena sosial, yaitu problem yang berkaitan dengan hubungan antar manusia. Sosio drama digunakan untuk memberikan pemahaman dan penghayatan akan problem sosial serta mengembangkan potensi siswa untuk memecahkannya.

Metode sosio drama digunakan dalam rangka untuk mencapai tujuan-tujuan yang mengandung beberapa sifat sebagai berikut :

Mengerti perasaan orang lain;

Membagi tanggung jawab dan memikulnya;

Menghargai pendapat orang lain;

Mengambil keputusan secara kelompok;

Membantu menyesuaikan diri dengan kelompok;

Memperbaiki hubungan sosial

Mengenali nilai-niai dan sikap-sikap;

Menanggulangi atau memperbaiki sikap-sikap salah. 

Menurut Ramayulis pelaksanaan metode Sosio Drama dapat mengikuti langkah-lagkah sebagai berikut: 

Persiapan 

Siswa mempersiapkan suatu kondisi yang berhubungan dengan masalah sosial dimana hal itu akan di peragakan, dalam hal ini siswa memilih tema cerita, dan menjelaskan mengenai peranan-peranan yang akan di mainkan siswa, pelaksanaan peran dan tugas-tugas bagi mereka yang tidak ikut berperan (penonton).

Penentuan pemeran 

Setelah mengemukakan tema cerita memberi dorongan kepada peserta didik untuk bermain peranan, maka diadakan penentuan para pelaku dan menjelaskan bilamana dan betapa harus memulai peran. Para pelaku diberi petunjuk dan contoh yang sederhana agar mereka siap mental. 

Permainan Sosio Drama 

Para pelaku memainkan peranan sesuai dengan imajinasi atau daya tanggap masing-masing siswa, pada suatu klimaks tertentu atau satu titik puncak perdebatan

 yang hangat.

Diskusi 

Permainan dihentikan, para pemeran dipersilahkan duduk kembali, dilanjutkan dengan diskusi yang di pimpin oleh guru. Diskusi berkisar pada tingkah laku para pemeran dalam hubungannya dengan tema cerita, sehingga terhadirlah suatu pembicaraan berupa tanggapan, pendapat dan beberapa kesimpulan. 

Ulangan permainan 

Setelah diskusi selesai, dilakukan ulangan permainan yaitu dengan memperhatikan pendapat, saran–saran atau kesimpulan–kesimpulan yang di peroleh dari hasil diskusi.

Ada beberapa hal yang patut diperhatikan dalam pelaksanaan metpde sosio drama yaitu:

Masalah yang dijadikan tema cerita hendaknya dialami oleh sebagian besar peserta didik;

Penentuan pemeran hendaknya secara sukarelawan dan motivasi dari pendidik;

Jangan terlalu banyak “disutradarai’, biarkan peserta didik mengembangkan kreatifitas dan spontanitas mereka;

Diskusi diarahkan kepada penyelesaian akhir (tujuan), bukan kepada baik atau tidaknya seseorang peserta didik berperan;

Kesimpulan diskusi dapat diresumkan oleh pendidik;

Sosiodrama bukanlah sandiwara, melainkan merupakan peranan situasi sosial yang ekspresif.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa metode Sosio Drama adalah seperangkat cara mengajar dengan memperlihatkan kepada siswa yang berkaitan dengan masalah-masalah sosial tersebut didramatisikan oleh siswa dibawah kendali pendidik dalam proses transfer ilmu guna mencapai tujuan pembelajaran. Melalui metode ini guru ingin mengajarkan bagaimana cara berperilaku dalam sehari-hari, bak dilingkungan keluarga maupn masyarakat.

Hasil belajar berasal dari dua kata yaitu “hasil’’ dan “belajar”. Dalam KBBI hasil mempunyai arti ; 1) sesuatu yang diadakan oleh usaha, 2) pendapatan dan perolehan. Sedangkan yang dimaksud dengan belajar merupakan perubahan tingkah laku. Secara umum para psikolog memberi definisi “belajar adalah berubah”. Gagne mengatakan “belajar adalah sebagai suatu proses dimana suatu organisasi berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman”. 

Tidak hanya itu, Arief dkk mengatakan “belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada semua orang dan berlangsung seumur hidup, yang dimulai dari sejak dia masih bayi hingga ke liang lahat kelak. Salah satu ciri-ciri bahwa sesorang telah belajar adalah adanya perubahan tingkah laku dalam dirinya. Perubahan tingkah laku tersebut menyangkut beberapa hal yakni perubahan yang bersifat pengetahuan (kognitif) dan keterampilan (psikomotor) dan yang bersifat nilai dan sikap (efektif). Lebih lanjut lagi Slameto dalam bukunya mengatakan “Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh sesuatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.”

Hasil belajar merupakan kemampuan yang diperoleh individu setelah proses belajar berlangsung, yang dapat memberikan perubahan tingkah laku baik pengetahuan, pemahaman, sikap dan keterampilan siswa sehingga menjadi lebih baik dari sebelumnya. Lebih lanjut lagi Nana Sudjana memberikan pengertian bahwa “Hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki peserta didik setelah terjadi proses pembelajaran yang di pengaruhi oleh faktor dari dalam diri peserta didik maupun dari luar.”

Dari uraian diatas dapat dipahami bahwa hasil belajar adalah proses kegiatan yang dilakukan pendidik dalam melihat sudah sejauh mana peserta didik dapat menguasai pelajaran setelah mengikuti kegiatan proses belajar mengajar, atau keberhasilan yang dicapai seorang peserta didik setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar yang biasanya ditandai dengan simbol tertentu, baik itu perubahan sikap maupun nilai (angka) yang didapatkan peserta didik. Sehubungan dengan judul penelitian ini maka yang dimaksud hasil belajar adalah keberhasilan yang dicapai seorang peserta didik setelah mengikuti kegiatan pembelajaran dengan Metode pembelajaran Sosio Drama pada mata pelajaran Akidah Akhlak yang dibuktikan dengan nilai setelah mengikuti evaluasi atau tes.

Metode Penelitian

Setting penelitian dalam penelitian ini dilakukan di Madrasah Ibida’iyah (MI) Yaa Bunayya yang terletak di Jalan Yoka No. 19-20, Distrik Heram, Kota Jayapura. Dalam Penelitian ini dilakukan di kelas III B.

Populasi merupakans wilayah generalisai yang terdiri dari obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Dalam penelitian ini yang menjadi populasi yaitu seluruh siswa kelas III B MI Yaa Bunayya Kota Jayapura berjumlah 17 siswa. 

Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas PTK (Classroom Action Research) yang melibatkan beberapa kali kegiatan refleksi, yaitu: perencanaan, tindakan, observasi, refleksi, dan perencanaan ulang. Penelitian ini dilaksanakan dengan beberapa siklus, yang menggunakan jenis data kuantitatif, yang mencari prosentase dari setiap kegiatan yang dilakukan. Prosedur penelitian yang dilakukan terbagi dalam bentuk siklus kegiatan yang mengacu pada desain model Lewin yang ditafsirkan oleh Kemmis (Mulyasa, 182 : 2010) sebagai berikut :


Bagan : Prosedur Langkah-Langkah Penelitian Model Lewin 


 







Berdasarkan bagan tersebut diatas, tahapan penelitian dapat dijelaskan sebagai berikut :

  Refleksi Awal

 Pada tahapan ini dilakukan identifikasi kesulitan siswa dalam memahami pelajaran Akidah Akhlak.

Perencanaan Tindakan

Masalah yang ditemukan akan diatasi dengan melakukan langkah-langkah perencanaan tindakan yaitu penyusunan instrumen penelitian berupa : Rencana Program Pembelajaran (RPP), Lembar Kegiatan Siswa (LKS), soal tes, angket, lembar observasi.

Pelaksanaan sebuah Tindakan

Pada tahap ini dilakukan tindakan berupa pelaksanaan program pembelajaran, pengambilan atau pengumpulan data hasil angket, lembar observasi dan hasil test.

a) Mengidentifikasi kesiapan seorang siswa untuk mengikuti kegiatan pelajaran.

b) menjelaskan materi pelajaran melalui pendekatan metode Sosio Drama dengan cara:

1). Menentukan konsep-konsep yang perlu diajarkan

2). Sebagai pendidik, mengenal dan memilih konteks yang sesuai dengan konsep.

3). Merumuskan menjadi masalah kontekstual.

4) Memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyelesaikan masalah sesuai dengan strategi yang ia ketahui baik secara perorangan maupun dengan kerja kelompok.

5) Memberikan umpan balik positif terhadap tanggapan siswa dan menekankan konsep dari materi yang diberikan.

6) Melakukan penugasan kepada siswa sesuai dengan bahan yang telah dikembangkan baik secara individual maupun kelompok.

7) Dengan memberikan motivasi dan menciptakan interaksi yang harmonis antara guru dan siswa. Siswa diarahkan untuk menyelesaikan masalah/soal.

8) Mencatat semua kejadian yang dianggap penting selama kegiatan proses belajar mengajar berlangsung dalam lembar observasi.

9) Pada akhir siklus diberikan tes dari materi yang diajarkan.

Observasi, Refleksi dan Evaluasi

Pada tahapan ini baik observasi, refleksi dilaksanakan untuk mengumpulkan data dan menganalisisnya untuk kemudian dapat membuat kesimpulan dari penelitian ini.

Instrumen penelitian merupakan suatu alat yang digunakan mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati. Secara spesifik semua fenomena disebut variabel penelitian. Instrumen yang digunakan untuk memperoleh data dalam penelitian ini adalah:

Tes Hasil Belajar

Tes hasil belajar yang dilakukan sesudah tindakan perbaikan, meliputi tes tertulis dan lisan. Dimana digunakan untuk mengukur sejauh mana pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan.

Observasi 

Observasi kelas dilakukan untuk mengadakan pengamatan terhadap aktivitas dan kreativitas peserta didik dalam pembelajaran, baik di kelas maupun diluar kelas.

Dokumentasi

Dokumentasi yang diambil dari catatan refleksi guru dan masukan-masukan teman sejawat saat melakukan refleksi sehabis melaksanakan tindakan.

Angket 

Angket digunakan untuk mengetahui tanggapan siswa mengenai pelaksanaan tindakan.

Dalam teknik analisa data, penulis mengolah hasil wawancara dan observasi dengan mendeskripsikannya kemudian menganalisa dan menyimpulkannya. Kemudian untuk data yang diperoleh dari angket, diseleksi dan disusun. Setelah itu data-data diklasifikasikan lalu dilakukan analisis data.

Dalam hal ini jenis data yang dikumpulkan adalah data kuantitatif dengan meggunakan rumus statistik sederhana. Adapun rumus yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

  F

P = x 100%

N

Keterangan :

P = prosentase

F = frekuensi

N = jumlah responden.

Data yang dapat dihimpun dari setiap item pertanyaan akan dimasukkan kedalam satu tabel yang didalamnya langsung dibuat frekuensi dan prosentase, setelah itu penulis menganalisa dan menginterpretasikan data hasil perhitungan tersebut, sehingga mudah untuk dimengerti dan dipahami. Dengan demikian, akan diketahui hasil penelitian ini secara pasti dan benar sesuai dengan rumusan penelitian yang dibahas.

Hasil penelitian dan pembahasan

Hasil Penelitian

Penelitian tindakan kelas atau PTK ini diinplementasikan pada mata pelajaran akidah akhlak kelas III. Biasanya, pada saat melakukan siklus pertma ditemukan kendala-kendala sehingga tujuan penelitian tindakan kelas belum terlaksana. Oleh karena itu, diadakan rangkaian siklus dengan harapan siklus selanjutnya dapat menunjukkan tujuan penelitian dengan belajar menganalisis kendala-kendala yang ditemui pada siklus pertama. Namun, apabila pada siklus kedua hasilnya yang didapat belum juga memenuhi tujuan penelitian, maka diadakan siklus selanjutnya hingga tujuan tercapai. Namun sebaliknya, apabila pada siklus kedua tujuan hasil penelitian sudah terwujud maka penelitian dapat dihentikan. Dalam penelitian ini, peneliti merencanakan untuk menggunakan 3 kali siklus penelitian, tetapi karena pada siklus kedua sudah mulai terdapat peningkatan hasil belajar siswa maka akhirnya peneliti memutuskan untuk berhenti pada siklus selanjutnya. Dan tidak melanjutkan pada siklus selanjutnya.

Kondisi Pra Siklus

Pada kegiatan awal, di kelas III B Semester II MI Yaa Bunayya yaitu tahap pratindakan atau pra siklus. Kondisi pra siklus merupakan kondisi dimana siswa belum memperoleh perlakan penelitian tindakan, rangkaian pembelajaran yang berlangsung belum menggunakan metode pembelajaran sosio drama. Kegiatan pra siklus dilakukan untuk mengetahui keadaan nyata yang ada di kelas sebelum peneliti melakukan proses penelitian. pengamatan ini dilakukan dengan cara mengamati kegiatan proses pembelajaran secara langsung di kelas III B, serta wawancara terhadap guru dan siswa. 

Hasil pengamatan (orientasi awal), pada saat pelaksanaan interaksi proses belajar mengajar yang dilaksanakan di kelas peneliti menemukan banyak kendala. Diantaranya : a) Siswa tidak memahami materi yang diajarkan oleh guru; b) Siswa jenuh dengan metode mengajar guru sehingga banyak siswa yang bermain dengan temannya; c) Ruangan kelas tidak kondusif. Hal itu dibuktikan dengan hasil pemberian tes awal (Pre Test) dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel I : Hasil Test Awal (pra tindakan) 

No.

Pertanyaan

Nilai

F

%

Jumlah Siswa Yang Dianggap Telah Memenuhi Syarat Kecukupan Nilai


1.

Siswa mampu menjelaskan pengertian makhluk sosial


90-85

1

5,8%



7(41%)




80-75

1

5,8%





70-65

5

29,4%





≤60

10

59%



2.

Siswa mampu memberikan contoh sikap tolong menolong


90-85

0

0


10(52.82%)




80-75

2

11,76%





70-65

8

47,06%





≤60

7

41,18%



3.

Siswa mampu menjelaskan manfaat yang dapatkan dari tolong menolong


90-85

1

5,8%



4(23,5%)





80-75

0

0





70-65

3

17,7%





≤60

13

76,5%



4.

Siswa mampu menjelaskan bentuk tolong menolong


90-85

1

5,8%

4(23,5%)




80-75

0

0





70-65

3

17,7%





≤60

13

76,5%



5

Menyebutkan Al-Qur’an yang menerangkan tolong menolong


90-85

0

0


1(5,8%)




80-75

1

5,8%





70-65

0

0





≤60

16

94,2%



  Sumber Data : Pengolahan Data Primer.

Mengacu pada Kriteria Ketuntasan Belajar Minimal (KKM) siswa dikatakan tuntas belajar apabila memperoleh skor minimal 6.5 dari skor ideal 10, maka dapat dikatakan bahwa untuk pertanyaan tentang menyebutkan pengertian makhluk sosial, siswa yang memperoleh nilai dengan syarat kecukupan sebanyak 7 orang (41%), sedangkan pertanyaan menyebutkan contoh tolong menolong memperoleh nilai dengan syarat kecukupan sebanyak 10 orang (52.82%). Kemudian siswa yang memperoleh nilai dengan syarat kecukupan pada pertanyaan menjelaskan manfaat tolong menolong yaitu siswa yang memperoleh nilai dengan syarat kecukupan sebanyak 4 orang (23,5%). Sedangkan yang memperoleh nilai dengan syarat kecukupan pada pertanyaan bentuk yang kamu dapatkan dari tolong menolong yaitu 4 orang (23,5%), dan yang memperoleh nilai dengan syarat kecukupan pada soal menyebutkan al-Quran yang menerangkan tolong menolong yaitu 1 orang (5,8%). Dari uraian tersebut, maka dapat dikatakan bahwa pada kondisi pra siklus hasil belajar siswa sangat rendah pada mata pelajaran akidah akhlak kelas III B MI Yaa Bunayya.

Kondisi siklus pertama

Pada penelitian tindakan ini, dilakukan pada tangggal 10 April 2019 dalam sekali pertemuan yakni dengan waktu 2x45 menit atau satu jam mata pelajaran. Pada perencanaan tindakan siklus ini peneliti menerapkan metode Sosio Drama agar siswa mampu memahami materi yang sedang diajarkan sehingga mendapatkan hasil belajar yang terbaik. Adapun pada perencanaan siklus terdiri dari beberapa tahap yaitu ;

Perencanaan Tindakan Siklus 

Pada perencanaan tindakan, sebelum penelitian dilakukan pada titik yang sebenarnya, penelitian ini memiliki rencana untuk memperbaiki efektifitas dan efisiensi kinerja proses belajar mengajar di dalam kelas, yang siswanya memiliki kemampuan yang hiterogen dengan latar belakang akademik yang berbeda.

Siklus ini terdiri dari materi tentang mengupas secara singkat tentang Akhlak terpuji dalam waktu 2x45 menit dengan 1 kali pertemuan. Sebelum pembelajaran dilaksanakan penelitian ini dimulai dari beberapa tahapan persiapan, yaitu:

Menganalisis krikulum dalam rangka mengetahui standar kompetensi dan kompetensi dasar serta materi pokok tentang Akhlak terpuji yang akan disampaikan degan mengimplementasikan metode Sosio Drama.

Membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) Akidah Akhlak dengan metode Sosio Drama,

Membuat langkah-langkah pembelajaran pada siklus meliputi :

Pendahuluan 10 menit

- Guru memulai kegiatan pembelajaran dengan mengucapkan salam.

- Guru menunjuk peserta didik untuk memimpin doa.

- Guru menyapa, menayakan kabar, memeriksa kehadiran, kerapian serta kesiapan peserta didik.

- Guru menyampaikan tujuan belajar yang akan dipelajari

- Guru memotivasi siswa untuk mempelajari tentang materi akhlak terpuji yaitu hidup rukun dan tolong menolong

Kegiatan Inti 

Menanya dan Pemberian Materi 

Guru bertanya pengertian singkat peserta didik tentang akhlak terpuji hidup rukun dan tolong menolong

Guru menjelaskan Materi akhlak terpuji hidup rukun dan tolong menolong

Mengamati 

Guru membagi kelas menjadi empat kelompok

Guru memberi penjelasan tentang jalannya pembelajaran dengan metode sosio drama

Mengeksplorasi : 

Guru membagi kelompok dan masing-masing kelompok membaca materi atau mencari materi di buku dan mendiskusikan isi materi yang sudah didapatkan

Peserta didik harus aktif mengikuti kegiatan pembelajaran dengan metode Sosio drama

Guru mempersilahkan siswa untuk memperagakan bermain peran seperti materi yang didapatkan

Mengasosiasi : 

Siswa bersama anggota kelompoknya diminta untuk memperhatikan dan menunggu giliran

Siswa diminta untuk menyebutkan hasil peranan dan menyimpulkanya

Mengkomunikasikan : 

Setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusinya didepan kelas 


  Penutup 

Guru menyimpulkan materi yang sudah di pelajari

Guru memberikan penguatan materi ajar

Guru menutup kegiatan pembelajaran dengan membaca doa penutup majlis dan mengakhiri pertemuan dengan ucapan salam. 

Menyiapkan bahan ajar, membuat bahan materi dan lembar kerja siswa serta menyiapkan sarana dan prasarana yang dapat mendukukng dalam proses pembelajaran.

Menyiapkan instrumen pengumpulan data yang akan digunakan dalam penelitian tindakan kelas yaitu menyiapkan lembar evaluasi siswa 

Pelaksanaan Tindakan Siklus 

 Pada tahap ini diadakan satu kali pertemuan. Adapun pembelajaran dilaksanakan dalam waktu 2x45 menit dengan dilaksanakan beberapa tahapan :

Pada kegiatan awal menghabiskan waktu 10 menit. Kegiatan pembelajaran dimulai dengan mengucapkan salam, mengajak peserta didik untuk membaca doa, mengabsen kehadiran siswa, kemudian memberikan motivasi siswa untuk belajar. Kemudian guru memberikan penjelasan tentang materi akhlak terpuji serta menjelaskan tujuan pembelajaran.

Masuk pada kegiatan selanjutnya yaitu kegiatan inti, pada kegiatan ini terjadi kurang lebih 60 menit. Pada kegiatan ini guru memberikan pertanyaan ke siswa : apa yang dimaksud akhlak terpuji ? apa contohnya ? kemudian guru menjelaskan materi akhlak terpuji tentang tolong menolong dan hidup rukun. Selanjutnya guru membagikan kelompok menjadi beberapa kelompok dengan didalamnya 3 siswa, kemudian guru menjelaskan metode sosio drama yang akan digunakan, setelah itu guru membagikan kertas yang berisi cerita dan dialog yang akan diperankan masing-masing kelompok. Guru memberikan waktu 10 menit untuk berdiskusi dengan teman kelompoknya. Setelah itu guru menunjuk tiap kelompok untuk menampilkan sesuai peran yang didapatkan. Kegiatan ini terus berlangsung hingga tiap kelompok semua tampil ke depan. Kemudian guru menanyakan hikmah dan maksud dari masing-masing kelompok terhadap apa yang sudah diperankan.

Masuk pada kegiatan akhir yaitu kegiatan penutup. Dalam kegiatan ini guru menyimpulkan materi, kemudian memberikan tugas dan memberikan waktu untuk mengerjakan, setelah itu siswa mengerjakan dan mengumpulkan tugasnya. Selanjutnya guru memberikan penguatan dan menutup kegiatan dengan doa yang dipimpin ketua kelas dan guru mengucap salam. Berikut hasil pelaksanaan tindakan siklus  

Tabel II : Hasil Test Siklus 

No


Pertanyaan

Nilai

F

%

Jumlah Siswa Yang Dianggap Telah Memenuhi Syarat Kecukupan Nilai


1.

Menjelaskan pengertian makhluk sosial


90-85

8

47,1%

16 (94,2%)




80-75

8

47,1%





70-65

0

0





≤60

1

5,8%



2.

Memberikan contoh sikap tolong menolong


90-85

8

47,1%

16 (94,2%)




80-75

8

47,1%





70-65

0

0





≤60

1

5,8%



3.

Menjelaskan manfaat yang dapatkan dari tolong menolong


90-85

7

41,18%

17 (100%)




80-75

8

47,06%





70-65

2

11,76%





≤60

0

0



4.

Siswa mampu menjelaskan bentuk tolong menolong


90-85

8

47,1%

16 (94,2%)




80-75

8

47,1%





70-65

0

0





≤60

1

5,8%



5

Siswa mampu menyebutkan Al-Qur’an yang menerangkan tolong menolong


90-85

7

41,18%

17 (100%)




80-75

8

47,06%





70-65

2

11,76%





≤60

0

0



Sumber Data : Pengolahan data Primer.

Hasil pengamatan pada siklus ini, Selama kegiatan pembelajaran, peneliti bertindak sebagai guru sekaligus sebagai observer yang mencatat lembar pengamatan pada pedoman observasi. Hasil pengamatan pada siklus ini, kegiatan siswa sangat baik dengan antusias dan merespon positif mengikuti kegiatan belajar mengajar. Hal ini dibuktikan dengan peningkatan hasil belajar yang sangat signifikan. 

Pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung, siswa terlihat lebih semangat dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan guru pada saat apersepsi dan materi. Bahkan saling berebut untuk menjawab pertanyaan tersebut sehingga kelas menjadi riuh dengan banyaknya jawaban mereka.

Pada saat pembagian kelompok dan kertas, seluruh siswa sangat antusias bahkan yang belum mendapatkan kelompok maju dan bertanya. Setelah itu guru memberikan waktu untuk membagi tugasnya masing-masing dan berdiskusi dan kegiatan ini tidak berlangsung lama karena semangat siswa untuk segera presentasi. Saat ada yang presentasi, siswa tertib meskipun ada beberapa anak yang riuh namun sebagian besar mendengar dan melihat presentasi temannya. Seluruh siswa bergantian maju untuk presentasi dan setelah semua presentasi, siswa mampu menyimpulkan hikmah dan arti dari apa yang telah dpresentasikan.

Untuk mengetahui daya serap siswa, guru memberikan test tertulis secara individu. Pada kegatan ini siswa terlihat sungguh-sungguh mengerjakannya. 

Dari data diatas, maka dapat dikatakan bahwa untuk pertanyaan menyebutkan pengertian makhluk sosial, siswa yang memperoleh nilai dengan syarat kecukupan sebanyak 16 orang (94,2%), sedangkan pertanyaan menyebutkan contoh tolong menolong memperoleh nilai dengan syarat kecukupan sebanyak 16 orang (94,2%). Kemudian siswa yang memperoleh nilai dengan syarat kecukupan pada pertanyaan menjelaskan manfaat tolong menolong yaitu siswa yang memperoleh nilai dengan syarat kecukupan sebanyak 17 orang (100%) atau semua mampu menjawab dengan benar.. Sedangkan yang memperoleh nilai dengan syarat kecukupan pada pertanyaan menjelaskan bentuk dari tolong menolong yaitu 16 orang (94,2%), dan yang memperoleh nilai dengan syarat kecukupan pada soal menyebutkan al-Quran yang menerangkan tolong menolong yaitu 17 orang (100%) atau semua mampu menjawab dengan benar. Jadi hasil pengamatan pada tahap siklus ini mengalami peningkatan yang signifikan dibanding dengan pada saat pre test awal.

- Refleksi Siklus 

Berdasarkan pelaksanaan tindakan siklus ini, kegiatan pembelajaran dapat berjalan dengan baik dan lancar dibandingkan dengan kegiatan pembelajaran pada saat Pre test. Adapun refleksi pada siklus ini adalah :

perhatian dan antusias siswa pada saat mengikuti proses pembelajaran sangat meningkat.

Pada saat diskusi dapat berjalan dengan efektif melalui kerjasama siswa dalam kelompok, sudah terlihat kompak dan mampu melakukan pembagian tugas dengan baik.

Siswa berani mempresentasikan atau memerankan perannya di hadapan teman-temannya dan mampu bertanya serta menanggapi dari siswa yang presentasi di depan.

Dari pelaksanaan siklus ini, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa nilai yang diperoleh siswa dari pra tindakan atau pra siklus hingga siklus pertama mengalami peningkatan yang signifikan.berdasarkan indikator keberhasilan pada BAB III, maka ketuntasan belajar siswa sudah lebih 75% maka penerapan metode Sosio drama untuk meningkatkan hasil belajar pada mata pelajaran akidah akhlak bagi siswa kelas III B di MI Yaa bunayya kota jayapura dinyatakan berhasil dan penelitian dihentikan.

Pembahasan 

Dari uji test pada siswa dapat dilihat perkembangan pengetahuan Akidah Akhlak yang sangat signifikan yang diperoleh siswa di MI Yaa Bunayya Kota Jayapura, walaupun masih ada siswa yang belum mampu untuk menguasai materi secara keseluruhan, hal ini dapat dilihat dari tingkat pengetahuan siswa yang semakin meningkat, ini dapat dilihat sebagai berikut.

Untuk mengetahui tentang hasil perbandingan nilai dari pertanyaan yang diajukan kepada siswa tentang kesanggupan siswa untuk menjelaskan pengertian makhluk sosial dapat dilihat sebagai berikut.

Tabel III : Perbandingan Distribusi Pendapat Responden Tentang Siswa Mampu Menjelaskan Pengertian Makhluk Sosial.

No.

Pertanyaan 

Interval Nilai

Prosentase (%) dan Jumlah (f)





Pre Test


Siklus I



1.

Siswa Mampu menjelaskan pengertian makhluk sosial

90-85

1(5,8%)

8(47,1%)




80-75

1(5,8%)

8(47,1%)




70-65

5(29,4%)

0




≤60

10(59%)

1(5,8%)


Nilai Yang Dianggap Telah Memenuhi Syarat Kecukupan

7(41%)

16 (94,2%)


Sumber Data : Pengolahan Data Primer.

 Dari data tersebut diatas, maka dapat dikatakan bahwa : Metode Sosio Drama dapat mampu meningkatkan pengetahuan siswa di MI Yaa Bunayya Kota Jayapura Kelas IIIB yaitu terhadap pengetahuan Akidah akhlak tentang siswa mampu menjelaskan pengertian makhluk sosial yaitu sebanyak 16 orang yang memenuhi syarat kecukupan nilai. Ini merupakan suatu hasil yang sempurna dalam penerapan metode Sosio Drama.

Untuk mengetahui perbandingan hasil yang diperoleh dari pertanyaan yang diajukan pada Siswa MI Yaa Bunayya Kota Jayapura tentang siswa mampu menyebutkan memberikan contoh sikap tolong menolong dapat dilihat sebagai berikut.

Tabel IV. : Perbandingan Distribusi Siswa Mampu Menyebutkan Memberikan Contoh Sikap Tolong Menolong.

No.

Pertanyaan 

Interval Nilai

Prosentase (%) dan Jumlah (f)





Pre Test


Siklus 


2

Siswa mampu memberikan contoh sikap tolong menolong

90-85

0

8(47,1%)




80-75

2(11,76%)

8(47,1%)




70-65

8(47,06%)

0




≤60

7(41,18%)

1(5,8%)


Nilai Yang Dianggap Telah Memenuhi Syarat Kecukupan

10(52.82%)

16 (94,2%)


Sumber Data : Pengolahan Data Primer.

Dari data tersebut diatas, maka dapat dikatakan bahwa : Metode Sosio Drama mampu meningkatkan pengetahuan siswa terhadap pengetahuan Akidah Akhlak di MI Yaa Bunayya Kota Jayapura kelas III B tentang siswa mampu memberikan contoh sikap tolong menolong yaitu 16 orang (94,2%) memenuhi syarat kecukupan nilai.

Untuk mengetahui perbandingan hasil dari pertanyaan siswa mampu menyebutkan urutan kitab suci Allah dari yang pertama hingga yang terakhir dapat dilihat sebagai berikut.

Tabel V : Perbandingan Pendapat Distribusi Responden Tentang Siswa Mampu Menjelaskan Manfaat Yang Didapatkan Dari Tolong Menolong

No.

Pertanyaan

Interval Nilai

Prosentase (%) dan Jumlah (f)





Pre Test

Siklus 


3

Siswa mampu Menjelaskan manfaat yang didapatkan dari tolong menolong

90-85

1(5,8%)

7(41,18%)




80-75

0

8(47,06%)




70-65

3(17,7%)

2(11,76%)




≤60

13(76,5%)

0


Nilai Yang Dianggap Telah Memenuhi Syarat Kecukupan

4(23,5%)



17 (100%)











Sumber Data : Pengolahan Data Primer.

Dari data tersebut diatas, maka dapat dikatakan bahwa : Metode Sosio Drama mampu meningkatkan pengetahuan siswa di MI Yaa Bunayya Kota Jayapura kelas IIIB terhadap mata pelajaran Akidah Akhlak tentang siswa mampu menjelaskan manfaat yang didapatkan dari tolong menolong yaitu 17 orang atau seluruh siswa memenuhi syarat kecukupan nilai.

Untuk mengetahui perbandingan hasil nilai pertanyaan tentang pendapat siswa mampu menjelaskan bentuk tolong menolong .dapat dilihat sebagai berikut.

Tabel VI : Perbandingan Pendapat Distribusi Responden Tentang Siswa Mampu Menjelaskan Bentuk Tolong Menolong

No

Pertanyaan 

Interval Nilai

Prosentase (%) dan Jumlah (f)





Pre Test

Siklus 


4.

Siswa mampu menjelaskan bentuk tolong menolong 

90-85

1(5,8%)

8(47,1%)




80-75

0

8(47,1%)




70-65

3(17,7%)

0




≤60

13(76,5%)

1(5,8%)


Nilai Yang Dianggap Telah Memenuhi Syarat Kecukupan

4(23,5%)

16 (94,2%)


Sumber Data : Pengolahan Data Primer.

Dari data tersebut diatas, maka dapat dikatakan bahwa : Metode Sosio Drama mampu meningkatkan pengetahuan siswa terhadap Akidah Akhlak tentang siswa di MI Yaa Bunayya Kelas IIIB mampu menjelaskan bentuk tolong menolong yaitu 16 orang atau (94,2%) memenuhi syarat kecukupan nilai.

Untuk mengetahui hasil perbandingan nilai dari pertanyaan yang diajukan pada siswa tentang kemampuan siswa menyebutkan Al-Qur’an yang menerangkan tolong menolong dapat dilihat sebagai berikut.

Tabel VII : Perbandingan Pendapat Distribusi Responden Tentang Siswa Mampu Menyebutkan Al-Qur’an Yang Menerangkan Tolong Menolong

No.

Pertanyaan 

Interval Nilai

Prosentase (%) dan Jumlah (f)





Pre Test

Siklus 


5.

Siswa mampu menyebutkan Al-Qur’an yang menerangkan tolong menolong 

90-85

0

7(41,18%)




80-75

1(5,8%)

8(47,06%)




70-65

0

2(11,76%)




≤60

16(94,2%)

0


Nilai Yang Dianggap Telah Memenuhi Syarat Kecukupan

1(5,8%)

17 (100%)


Sumber Data : Pengolahan Data Primer.

Dari data tersebut diatas, maka dapat dikatakan bahwa : Metode Sosio Drama mampu meningkatkan pengetahuan siswa terhadap Akidah akhlak tentang siswa mampu menyebutkan Al-Quran yang menerangkan Tolong menolong di MI Yaa Bunayya Kota Jayapura Kelas III B yaitu 17 orang atau (100%) memenuhi syarat kecukupan nilai.

Kesimpulan dan Saran

Kesimpulan 

Berdasarkan hasil penelitian tersebut, pada test awal diketahui bahwa siswa masih banyak yang memiliki nilai dibawah syarat kecukupan nilai dari beberapa pertanyaan yang telah diberikan, namun pada siklus I Hasil pengamatan pada tahap pendahuluan, terdapat peningkatan hasil belajar, hal ini dikarenakan siswa merasa mendapatkan penyegaran dalam kegiatan belajar mengajar, sehingga mereka berusaha memusatkan perhatian selama pembelajaran berlangsung. Akan tetapi, memasuki kegiatan penjelasan materi secara global, aktivitas siswa dalam mengajukan pertanyaan masih kurang. Hal ini dikarenakan siswa masih belum terbiasa untuk mengajukan pertanyaan. Sebaliknya, mereka lebih suka menjawab pertanyaan, ini dapat dibuktikan dengan hasil test pada siklus ke I, masih terdapat siswa yang memiliki nilai dibawah syarat kecukupan, yang jumlahnya semakin sedikit jika dibandingkan dengan saatpra tindakan atau siklus pertama.

Selama kegiatan pembelajaran, dari hasil pengamatan pada siklus I, kegiatan siswa cukup baik dengan antusias dan merespon positif mengikuti kegiatan belajar mengajar. Sangat memuaskan adanya peningkatan prestasi belajar dibandingkan pada saat pra siklus. Hal ini terlihat dari aktivitas bertanya siswa yang pada saat pre test mereka masih malu-malu dan takut salah, pada siklus I ini mereka sudah mulai berani bertanya dengan bobot pertanyaannya sesuai yang diharapkan. Pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung, para siswa tampak gembira dan senang, hal ini dapat dilihat dari roman muka mereka yang tampak memancarkan semangat dan antusias untuk belajar meskipun masih ada beberapa siswa yang belum terbiasa dengan model pembelajaran yang diterapkan oleh peneliti. Namun syarat kecukupan nilai yang diperoleh siswa jauh lebih baik dari hasil yang ada pada awal test dan pada test yang dilakukan pada siklus I.

Saran

Sesuai dengan hasil penelitian seperti yang terangkum dalam kesimpulan diatas, maka saran yang dapat dikemukakan dalam penulisan ini bahwa diharapkan Guru Akidah Akhlak pada MI Yaabunaya Kota Jayapura memperhatikan :

Telah terbuktinya penerepan metode sosioderama dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran Akidah Akhlak di MI Yaabunaya Kota Jayapura kususnya di kelas III.B, maka peneliti sarankan beberapa hal sebagai berikut:

Dalam kegiatan belajar mengajar, guru diharapkan menjelaskan pembelajaran melalui penerapan metode sosiodrama sebagai suatu alternatif dalam mata pelajaran Akidah Akhlak di untuk meningkatkan hasil belajar siswa di MI Yabunaya MI Yaabunaya Kota Jayapura.

Kegiatan ini sangat bermanfaat khususnya bagi guru dan siswa, karena terdapat interaksi yang baik antara siswa dan guru, maka diharapkan kegiatan ini dapat dilakukan secara berkesinambungan dalam mata pelajaran Akidah Akhlak maupun pelajaran lainya, dan dapat dilakukan dalam jumlah siswa yang banyak, sehingga efektifitas dan efisiensi pembelajaran dapat mudah diwujudkan.







DAFTAR PUSTAKA


Dahar Wilis Wilis, Teori-teori Belajar dan Pembelajaran, 2011, Bandung : Erlangga.

Purwanto Ngalim, Psikologi Pendidikan, 2002, Bandung: Remaja Rosda Karya.

Ramayulis, Metodologi Pendidikan Agama Islam, 2012, Jakarta : Kalam Mulia, cet. Ke-7.

Sadimsan Arief S. Dkk,1984, Media Pendidikan, Jakarta : Rajawali Press.

Sanjaya,Wina, strategi pembelajaran berorientasi standar proses pendidikan, 2007, Jakarta : kencana Prenada Media Group.

Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi,2010, Jakarta: Rineka Cipta. 

Sudjana Nana, Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar,2009, Bandung: Sinar Baru Algesindo.

Sudjiono Anas, Pengantar Statistik Pendidikan, Jakarta: Raja Grafindo Persada,1997;

Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan, 2008, Bandung : CV. ALFABETA, Cet. Ke6

Tim Penyusun Pusat Bahasa (Mendikbud), kamus Besar Bahasa Indonesia, 2007, Jakarta : Balai Pustaka, Ed.3, Cet.4

Undang-Undang Republik Indonesia

Usman Basyiruddin Muhammad, Metodologi Pembelajaran Agama Islam, 2002, Jakarta: Ciputat Pers.

Tidak ada komentar

Reti suryani

Reti suryani
Muslimah untuk Indonesia