![]() |
Buku baru semangat baru meskipun belum gajian |
Seorang perempuan, anak pertama, ambis, tidak suka bertele - tele, suka menulis, suka belajar, suka berbagi, dan sudah bersuami.
To the point aja !
Mau menulis apa disini? Mau memberikan apa? Mau cerita soal apa ?
Tentang edukasi yang pernah padam, pasrah dalam kegelapan hilang dalam genangan hujan, rintik hujan tidak ada hentinya:
Setelah lama tenggelam tidak menulis apapun bukan berarti tidak ada keinginan untuk berbagi;
Hai 2025 aku kembali dengan versi terbaru dan terbaikku;
Ini adalah buku kedua, baru aku beli, setelah buku pertama habis tak menyisakan satu lembarpun, (jadi ceritanya ini tulisan persis sama dibuku edukasi yang baru aku beli dan kepikiran mau menuangkan tulisannya di web kesayangan ini).
Siapa tahu tulisan yang receh ini bisa membantu sekaligus memberikan motivasi untuk tetap semangat menjalani hari-hari meskipun belum jadi konglomerat.
Tetap hidup ya, kamu berharga;
2025, jangan heran kalau ada kalimat tahun 2025 karena aku bangga banget, mengenang tahun ini yang berhasil meloloskan ku dari kematian, dan ketidakbergunaan ku dalam menjalain hidup.
2025 dengan segala action ; buku ini harus mengandung Ilmu harus diisi dengan Ilmu.
Sekali lagi tulisan ini tidak diperkenankan dibaca oleh sebagian kaum pemalas, karena secercah tulisan ini diketik saat hujan turun yang biasanya sebagian manusia lebih memilih menarik selimut untuk tidur, sehingga shalatnya ketinggalan, makan malam keluarga terlambat, jualan enggak dilayani, semua serba kebetulan.
Mager bersamaan;
Aku sudah menjelajahi dari tahun ke tahun sampai menuju 2025; part yang paling menantang dalam kehidupan. Yang biasanya aku menulis resolusi di setiap sudut kamar dan banyak hal yang aku targetkan, dan kembali setiap tahun aku tetap evaluasi atas semua resolusi yang aku tulis. Kalian tahukan Resolusi? Ini aku kasih contoh “2025 aku mau nikah”, “2024 mau jadi dosen”, “2026 mau punya baby”. Ini sekedar contoh saja yang biasa aku tulis di kertas origami warna warni memenuhi sudut kamar, dan setiap hari melihat tulisannya , plotwisnya satu-satu akhirnya terwujud; meksipun aku menuliskannya sekedar iseng karena memang suka banget menulis, baik dibuku, di hp, maupun dibuku catatan, sama aja lah.
Tapi tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.
Setelah sekian banyak evaluasi aku memutuskan untuk lebih banyak action, dari pada kebanyakan resolusi yang terpampang di dinding tapi enggak di lakukan. Ini cukup menarik karena beberapa hal penting itu ada di dunia nyata faktanya ketika kita terjun di masyarakat, dunia kerja, dan menghadapi berbagai aspek manusia dengan kategori berbeda.
2025 meski status sudah berubah menjadi istri shalihah, namun, kebiasaan baik dari zaman dahulu masih tetap ada dan tidak pernah menghilang, kebiasaan belajar meskipun belajarnya otodidak tanpa guru, sesekali suami yang menjadi guru, aku sudah menikah terhitung 30//6/24, mengarungi rumah tangga sudah satu tahun berlalu, pekerjaan saat ini seorang istri, guru, pengusaha kaya raya (aamiin allahumma aamiin)
List guru yang tidak pernah terbayangkan di otakku meskipun jurusanku pendidikan:
Cukup meluluhlantakkan otakku selama satu tahun ini; sebelum akhirnya aku memilih untuk berdamai dengan keadaan; hari ini aku menulis banyak hal-hal pragmatis yang aku jalani meskipun jalan untuk mendapatkannya tidak pragmatis—
Memulai perjalanan karir dari jenjang Sarjana di kota bengkulu lanjut jenjang pascasarjana di kota Malang Jawa Timur, setelah akhirnya aku bertekad meskipun sekolahnya di pulau Jawa jodohnya harus anak sumatra dan tahun 2024 Allah mengabulkannya aku melanjutkan pernikahan dengan dia yang saat ini setia mendampingi keras kepala dan segala macam kekuranganku. Thanks For You my husband”.
Perjalanan menjadi guru dengan titel yang katanya cukup kaya jika kerja; karena sudah mengarungi sumatra dan Jawa dalam mengejar Ilmu dengan setengah pengalaman dari beberapa pelatihan, organisasi, yang pernah aku ikuti di kampus. Dengan bekal seadanya dengan keyakinan yang kuat aku mau kerja menjadi guru;
Awalnya berat banget dan lumayan kaget, karena waktu dulu teman-teman dikelas pernah debat persentasi di kampus soal dana bos, saat itu yang mengajar Prof Mulyadi, mereka anak-anak laki-laki terus debat soal dana bos, karena dari separuh teman kuliah di pascasarjana kerja sembari kuliah, jadi mereka lumayan berpengalaman soal lingkungan dunia pendidik.
Aku, yang enggak mengerti sama sekali cuma modal ngetik jurnal di Google dan paham oh ternyata begitu; “dulu mikirnya pasti rumit jadi guru, dan timbul empati saat itu kasian banget ya yang jadi guru, dan ada ketakutan sendiri untuk menjadi seorang pendidik saat mereka menyampaikan gagasan di lapangan hal-hal di luar dugaan terjadi”.
Pada saat itu, aku memiliki rasa empati, sedih tapi enggak merasa gimana sedihnya mereka pada saat itu, sebatas empati tapi enggak benar-benar merasakan bagaimana jadi seorang guru. Dan ketika terjun ke lapangan tahu fakta bahwa jadi guru benar-benar se-menyakitkan itu. Sekarang empati ke diri sendiri dan mau bilang oh ternyata begini yang dirasakan teman-teman tahun lalu saat persentase di kelas dan benar-benar seserius itu mereka dan aku yang enggak tahu apa-apa sama sekali pada akhirnya tahu fakta di lapangan dan yang bikin menyakitkan itu; yang viral di sosial media bahwa ada buk menteri yang bilang “guru itu beban negara”?.
Please kita kupas di mana bebannya? Kita bertahan hidup dari hari ke hari, jangankan mau kredit rumah, bulan depan aja ga tahu masih makan apa enggak, dan hal-hal aspirasi, seperti ini tulisan receh seperti ini pasti enggak dilihat sama sekali, beda sama yang joget-joget di tiktok langsung viral, dalam hitungan jam. Suara guru enggak didengar sama sekali, buk mentri bayangin ada teman kita yang enggak berpenghasilan apapun kecuali mengandalkan gaji guru? Gimana cara mereka makan? Bayar kontrakan? Bayar listrik? Isi bensin?
Kita hidup di negara di mana isinya tidak ada yang berniat Men - Sejahterakan guru, dari kalangan bawah sampai ke parlemen negara; hidup berasa diaduk-aduk oleh kebijakan-kebijakan yang tidak bermutu sama sekali, dari atas sampai ke pejabat bawahan isinya, dari tahun- ke tahun enggak ada yang berniat memakmurkan keadaan guru yang sangat memprihatinkan. Dunia sudah disebukan dengan hal-hal yang tidak bermanfaat, mulai dari mereka yang sibuk memperkaya diri sendiri.
Tidak ada yang benar-benar memperhatikan kami sebagai seorang guru. Mereka bercerita tentang motivasi bagi mereka yang sudah berada di kalangan atas, yang sudah menjabat yang apapun bisa dibeli dengan gaji, apapun bisa dibeli dengan uang.
Kita butuh di sejahterakan bukan bualan yang sialan membuat hari menjadi makin sial.
Seorang guru dengan sebaris kalimatnya bersambung dengan episode selanjutnya;
Tidak ada komentar